SEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU

 


Di sebuah pondok pesantren yang bernama Darul Mubarok ada seorang santri, sebut saja namanya Qosim. Di pondok tersebut dia termasuk santri terkecil waktu itu. Dia di pondok tersebut pada awalnya dia sangat malas dan dikenal nakal. Kegiatan tahfidz pertamanya dia masuk kelas tahsin (masih perbaikan bacaan) dan dia tidak bisa mengaji dan akhirnya dia dipindahkan ke khalaqah yang lain. Di pondok dia sering dibuli dikarenakan faktor badannya, pakaiannya dan barangnya banyak yang hilang.

Sejak pindah khalaqah dia bertekat untuk menjadi rajin dan ingin membanggakan orang tuanya. Dia juga sering membaca keutamaan-keutamaaan seorang hafidz al-qur’an untuk membuat semangatnya semakin membara. Dan benar pada semester II ia naik ke tingkat tahfidz dan mulai untuk menghafal dengan semangat. Bulan demi bulan, tahun demi tahun hafalan Qosim meningkat pesat dan pada tahun ke empat ia akhirnya dapat menyelesaikan hafalan 30 juz.

Yang dulunya ia nakal, malas dan sering dibuli. Dan pada akhirnya sekarang ia menjadi rajin, baik dan dihormati.

Hari ini tidak menentukan apa yang terjadi pada esok hari, tapi ubahlah diri mulai hari ini untuk hari esok yang lebih cerah.

Karya : M. Bani Ilham Fathoni | Kelas XI Putra | Alamat Penjor, Gangga, Lombok Utara

Komentar